
Pertanyaan "kapan kita punya cathlab" biasanya muncul di rapat direksi setelah satu lagi pasien serangan jantung dirujuk keluar pada malam hari. Perjalanan ke rumah sakit lain memakan waktu, pasien tiba terlambat, dan keluarga menempuh jarak yang seharusnya tidak perlu.
Keinginan membuka layanan kateterisasi jantung memang wajar. Namun pengalaman banyak rumah sakit menunjukkan satu hal: alat dan ruangan hanyalah bagian kecil dari pekerjaan. Yang menentukan adalah tim yang siap, alur yang jelas, dan pasokan yang tidak putus.
Target 2022 dan satu kalimat yang perlu diingat
Pada 7 Juli 2022, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan 207 kabupaten/kota mampu melakukan layanan cath lab dan bedah jantung terbuka. Saat itu, layanan cath lab baru tersedia di 28 dari 34 provinsi. Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan, "Namun yang kurang adalah dokter spesialisnya."
Kalimat itu penting bukan karena angka targetnya, melainkan karena arah perhatiannya. Persoalan utama bukan hanya pengadaan alat, tetapi kesiapan tenaga dan sistem kerja di sekitarnya. Bagi rumah sakit tipe B dan C yang ingin membuka layanan, urutan berpikirnya sebaiknya mengikuti kenyataan itu.
Delapan tahap membuka layanan cathlab
1. Kajian kebutuhan dan pola rujukan wilayah
Sebelum berbicara alat, kumpulkan data yang sudah dimiliki rumah sakit. Berapa pasien dengan keluhan jantung yang dirujuk keluar setiap bulan? Dari kecamatan mana? Berapa lama waktu tempuh ke rumah sakit rujukan? Kasus apa yang paling sering dirujuk?
Data ini biasanya tersedia di rekam medis, laporan IGD, dan surat rujukan. Bila belum rapi, mulailah mencatat sejak sekarang. Kajian yang jujur akan menentukan apakah layanan ini benar-benar dibutuhkan, dan pada skala apa.
Libatkan Dinas Kesehatan Provinsi dan rumah sakit rujukan utama. Mereka dapat menunjukkan peta kebutuhan wilayah yang tidak terlihat dari data satu rumah sakit.
2. Tim: dokter, perawat, radiografer, dan jadwal jaga
Ini bagian yang paling sering menjadi penghambat. Layanan cath lab membutuhkan dokter jantung intervensi, perawat yang terlatih mendampingi tindakan, radiografer yang memahami pencitraan, serta tim jaga yang siap menerima pasien serangan jantung kapan saja.
Bila dokter intervensi belum tersedia penuh waktu, rumah sakit dapat menjajaki kerja sama dengan dokter dari rumah sakit pengampu. Skema seperti ini lazim, tetapi perlu kejelasan jadwal, kewenangan klinis, dan tanggung jawab medis.
Pelatihan tidak berhenti pada teori. Perawat dan radiografer perlu terlibat dalam tindakan nyata, memahami persiapan pasien, dan mengenali situasi yang memerlukan bantuan.
3. Ruang, proteksi radiasi, dan perizinan
Cath lab membutuhkan ruang dengan proteksi radiasi yang memadai, ruang persiapan pasien, area pemulihan, dan jalur evakuasi yang jelas. Selain itu, diperlukan izin pemanfaatan radiasi dari BAPETEN, izin kerja bagi pekerja radiasi, penunjukan petugas proteksi radiasi, dan uji kesesuaian pesawat sinar-X sebelum beroperasi.
Pemeriksaan kesiapan ruang sebaiknya dilakukan sebelum alat dipesan. Perbaikan struktur setelah alat tiba akan jauh lebih mahal dan memperlambat layanan.
4. Alur pasien serangan jantung dari IGD
Layanan cath lab tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan IGD, ruang rawat intensif, dan laboratorium. Alur pasien perlu ditulis dan diuji: siapa yang melakukan pemeriksaan awal, siapa yang menghubungi dokter intervensi, siapa yang menyiapkan ruang, dan bagaimana keluarga diberi penjelasan.
Waktu adalah faktor penting pada serangan jantung. Karena itu, setiap langkah yang bisa disederhanakan akan membantu. Alur yang hanya dipahami satu orang tidak cukup; ia harus dipahami oleh seluruh tim jaga.
Bila tim belum siap 24 jam, rumah sakit perlu menetapkan jam layanan dan kriteria rujukan dengan jelas. Menjanjikan layanan penuh tanpa kesiapan justru berisiko bagi pasien.
5. Bahan habis pakai: kateter, guidewire, balon, stent
Kateter, guidewire, balon, dan stent adalah kebutuhan rutin. Masing-masing memiliki variasi ukuran dan tipe yang perlu disesuaikan dengan kasus. Kekurangan satu komponen dapat membatalkan tindakan yang sudah dijadwalkan.
Ada beberapa skema penyediaan yang biasa dipakai: stok sendiri, konsinyasi, atau penyediaan per tindakan. Masing-masing punya konsekuensi pada modal kerja, ruang penyimpanan, dan kecepatan layanan. Yang penting, skema yang dipilih disepakati tertulis, termasuk siapa yang memantau stok dan kapan pemesanan ulang dilakukan.
Jangan lupa mencatat pemakaian per pasien. Catatan ini berguna untuk evaluasi biaya, perencanaan stok, dan penyusunan berkas klaim.
6. Akses radial
Pemilihan akses masuk kateter merupakan keputusan dokter berdasarkan kondisi pasien. Dalam beberapa tahun terakhir, akses radial banyak dibahas dan dipakai di berbagai pusat karena pasien umumnya lebih cepat bisa bergerak setelah tindakan.
Bagi rumah sakit yang baru membuka layanan, akses radial perlu masuk dalam pelatihan tim, kesiapan peralatan pendukung, dan pemantauan pasca-tindakan. Pembahasan lebih lengkap tersedia dalam artikel kami tentang akses radial di girisakti.com.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan satu pilihan akses sebagai satu-satunya cara. Fleksibilitas tim dan kesesuaian dengan kondisi pasien tetap yang utama.
7. Mutu dan klaim
Layanan yang berjalan tanpa pengukuran sulit diperbaiki. Beberapa indikator awal yang bisa dipakai: jumlah tindakan, waktu tanggap, kejadian yang tidak diharapkan, jumlah pasien yang dirujuk keluar, dan kelengkapan berkas klaim.
Indikator tidak perlu banyak. Yang penting dicatat konsisten dan dibahas berkala. Rapat mutu bulanan yang membahas satu masalah nyata lebih berguna daripada laporan tebal yang tidak dibaca.
Pada sisi klaim, pastikan kode tindakan dan dokumen pendukung dipahami tim. Kesalahan kecil pada berkas dapat menunda pembayaran dan menyulitkan evaluasi biaya layanan.
8. Pengampuan KJSU sebagai jalan pendampingan
Pada 17 September 2026, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menggelar sosialisasi dan koordinasi pengampuan layanan Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi (KJSU) serta Kesehatan Ibu dan Anak. Forum itu melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi, rumah sakit pengampu, dan rumah sakit yang diampu.
Mekanismenya: rumah sakit dengan kapasitas dan kompetensi lebih tinggi mendampingi rumah sakit jejaring di daerah, mencakup penguatan sumber daya manusia, tata kelola pelayanan, sarana dan prasarana, serta pelayanan sesuai standar.
Bagi rumah sakit yang ingin membuka cath lab, jalur ini bisa menjadi tempat bertanya yang tepat: bagaimana menyusun alur, bagaimana menyiapkan tim, dan bagaimana menjaga mutu setelah layanan berjalan.
Contoh situasi di RS daerah
Bayangkan pasien laki-laki berusia paruh baya datang ke IGD tengah malam dengan nyeri dada. EKG menunjukkan kondisi yang membutuhkan tindakan segera. Rumah sakit belum memiliki cath lab, sehingga pasien harus dirujuk.
Ambulans disiapkan, keluarga dihubungi, dan surat rujukan dibuat. Perjalanan memakan waktu. Sesampainya di rumah sakit rujukan, tim di sana sudah siap, tetapi waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan.
Situasi ini tidak selalu bisa diselesaikan dengan membeli alat. Namun bila pola serupa berulang setiap bulan, rumah sakit punya alasan kuat untuk mulai menghitung: berapa pasien, berapa jarak, dan kesiapan apa yang realistis dibangun.
Daftar periksa sebelum memulai
- Data pasien yang dirujuk keluar sudah dikumpulkan dan dianalisis.
- Peta rumah sakit rujukan dan waktu tempuh sudah diketahui.
- Dinas Kesehatan Provinsi dan rumah sakit pengampu sudah dilibatkan.
- Ada dokter jantung intervensi dengan kejelasan jadwal dan kewenangan.
- Perawat dan radiografer sudah mengikuti pelatihan.
- Rencana jaga untuk pasien serangan jantung sudah disusun.
- Ruang cath lab, proteksi radiasi, dan area pemulihan sudah diperiksa.
- Izin pemanfaatan radiasi sudah diproses.
- Alur pasien dari IGD sudah ditulis dan diuji.
- Kriteria rujukan keluar sudah disepakati.
- Daftar bahan habis pakai dan skema penyediaannya sudah jelas.
- Ada pemasok cadangan untuk komponen kritis.
- Pencatatan pemakaian per pasien sudah disiapkan.
- Indikator mutu dan jadwal pembahasannya sudah ditetapkan.
- Alur klaim dan dokumen pendukung sudah dipahami tim.
Pertanyaan yang perlu dijawab tim RS
- Berapa pasien yang benar-benar akan dilayani setiap bulan?
- Siapa yang akan melakukan tindakan, dan bagaimana jadwalnya?
- Apa yang terjadi bila dokter intervensi tidak tersedia?
- Apakah ruang dan proteksi radiasi sudah memenuhi syarat?
- Bagaimana pasien serangan jantung dikenali dan diaktifkan alurnya?
- Skema penyediaan bahan habis pakai mana yang paling sesuai?
- Indikator apa yang akan dibahas setiap bulan?
- Dukungan apa yang bisa diminta melalui pengampuan KJSU?
Penutup
Membuka cath lab bukan proyek pengadaan. Ia adalah perubahan cara rumah sakit bekerja: dari menerima lalu merujuk, menjadi menangani lebih awal dengan tim yang siap.
Target yang disebut pada 2022 menunjukkan arah kebijakan. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kesiapan tiap rumah sakit. Karena itu, langkah paling berguna adalah memulai dari data, bukan dari katalog alat.
Tim GSU mendampingi rumah sakit dalam menyiapkan layanan kardiologi, termasuk penilaian kesiapan alat, daftar kebutuhan bahan habis pakai, dan rencana pemeliharaan. Bila Bapak/Ibu sedang menyiapkan layanan cath lab, silakan menghubungi tim kami melalui formulir di girisakti.com atau nomor WhatsApp resmi GSU. Kami siap membantu memetakan langkah berikutnya.
Sumber
- Kemenkes — Menkes Budi Targetkan Pemenuhan Cath Lab di 207 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi (7 Juli 2022)
- Ditjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes — Sosialisasi dan koordinasi pengampuan KJSU dan KIA (17 September 2026)
- Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif



